30.6 C
Jakarta

(OPINI) Belajar Kerukunan Agama di Indonesia

Published:

Oleh: Prof Jamhari Makruf, Ph.D

RBN, OPINI – Saat ditanya alasan memilih belajar di Indonesia, Ararat Kostanian, mahasiswa doktor ilmu politik Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) asal Suriah-Armenia menjelaskan bahwa kecintaannya pada Indonesia berawal dari kisah sang kakek tentang Soekarno.

Kenangan masa kecil melihat foto-foto Soekarno yang selalu ditunjukkan oleh kakeknya menanamkan kesan mendalam.

Pengalaman itulah yang kemudian mendorong Ararat mengambil studi Asia Pasifik saat menempuh pendidikan magister di Australian National University (ANU), Canberra, dengan fokus kajian Indonesia.

Kakek Ararat adalah seorang filsuf sekaligus pemusik Suriah-Armenia yang mengagumi Soekarno, terutama gagasan Pancasila dan perjuangannya melawan kolonialisme.

Setiap kali melihat gambar Soekarno di media, sang kakek selalu menunjukkannya kepada Ararat kecil.

Kisah-kisah itu melekat kuat dan akhirnya mengantarkan Ararat melanjutkan studi doktoralnya di Universitas Islam Internasional Indonesia.

Suriah-Armenia dan Indonesia

Bangsa Armenia saat ini memiliki negara sendiri, Republik Armenia, yang dikenal sebagai negara Kristen pertama di dunia.

Namun, sebagian besar orang Armenia hidup sebagai diaspora yang tersebar di Rusia, Amerika Serikat, Eropa, Iran, Suriah, dan berbagai wilayah lainnya.

Mereka menganut Gereja Apostolik Armenia yang merupakan bagian dari Ortodoks Oriental.

Diaspora Armenia dikenal berhasil dalam dunia bisnis, termasuk di Asia Tenggara.

Di Indonesia, jejak Armenia terlihat jelas di Surabaya melalui pendirian Hotel Oranye kini dikenal sebagai Hotel Majapahit yang dibangun oleh keluarga Sarkies asal Armenia.

Keluarga ini juga mendirikan Hotel Raffles di Singapura. Pada 10 November 1945, pemuda Surabaya mengambil alih Hotel Oranye dan mengganti bendera Belanda dengan Merah Putih.

Hotel Majapahit kini menjadi saksi keberadaan diaspora Armenia sekaligus simbol keberanian arek-arek Surabaya melawan penjajahan.

Baca juga:  Thailand agrees plan for Saudi Arabia labour as ties normalise

Jejak Armenia juga terlihat di Jakarta, di mana bangunan gereja peninggalan komunitas Armenia kini digunakan sebagai kantor Bank Indonesia.

Kebun Binatang Ragunan pun dirancang oleh Benjamin Galstun, arsitek berdarah Armenia sekaligus direktur pertamanya.

Keragaman Indonesia dan Suriah

Selama tinggal di Indonesia, Ararat mulai menyadari keunikan keberagaman dan religiositas masyarakat Indonesia.

Negara yang majemuk secara etnis dan agama ini mampu menjaga kehidupan berdampingan secara relatif harmonis.

Dari Sabang sampai Merauke, masyarakat mempraktikkan beragam tradisi, bahasa daerah, dan ritual keagamaan, namun tetap menjunjung persatuan.

Ararat terkesan dengan budaya gotong royong serta perayaan hari besar keagamaan yang sering diwarnai kebersamaan lintas iman.

Pengalaman ini mengingatkannya pada masa kecilnya di Aleppo, Suriah.

Sebelum perang, Aleppo dikenal sebagai kota majemuk dan beradab, tempat berbagai komunitas Arab, Kurdi, Armenia, Turki, Muslim, Kristen, dan Yahudi hidup berdampingan secara damai.

Di pasar-pasar Aleppo, suara azan berpadu dengan denting lonceng gereja dan perayaan tradisi Armenia.

Kehidupan sosial diwarnai semangat saling membantu, toleransi, dan keterbukaan.

Konflik bersenjata menghancurkan bukan hanya bangunan, tetapi juga tatanan sosial dan harmoni antarumat beragama yang telah terbangun selama berabad-abad.

Kenangan Aleppo pra-perang menjadi pelajaran pahit tentang rapuhnya peradaban ketika konflik sektarian mengemuka.

Moderasi Beragama sebagai Jalan Tengah

Melihat realitas sosial dan keagamaan di Indonesia, Ararat terinspirasi untuk menulis tentang moderasi beragama sebagai sebuah jalan tengah dalam mengelola keragaman.

Di Indonesia, moderasi beragama dipahami sebagai upaya sadar untuk menempatkan agama sejajar dengan nilai-nilai kebangsaan, sehingga agama tidak berubah menjadi sumber konflik, melainkan berfungsi sebagai perekat persatuan.

Agama tidak disingkirkan dari ruang publik, tetapi diberi tempat yang proporsional sebagai sumber etika, makna spiritual, dan orientasi moral dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Baca juga:  BRI Region 7 Jakarta 2 Hadiri Acara Akad Massal 26.000 KPR FLPP dan Serah Terima Kunci Bersama Presiden RI

Moderasi beragama tumbuh dari kesadaran historis bangsa Indonesia akan pentingnya harmoni di tengah masyarakat yang sangat majemuk.

Sejak awal, Indonesia dibangun di atas keberagaman agama, etnis, bahasa, dan budaya.

Karena itu, sikap beragama yang adil, seimbang, dan tidak ekstrem menjadi kebutuhan sosial sekaligus prasyarat bagi keberlangsungan bangsa.

Moderasi beragama menolak sikap berlebih-lebihan dalam beragama yang menutup ruang dialog, tetapi juga menghindari sekularisasi yang mengosongkan peran agama dari kehidupan publik.

Dalam praktik sehari-hari, moderasi beragama tampak dalam berbagai bentuk kehidupan sosial.

Gotong royong lintas agama masih menjadi kebiasaan di banyak daerah, baik dalam urusan sosial, kemanusiaan, maupun pembangunan fasilitas umum.

Dialog antariman dilakukan secara berkelanjutan untuk membangun saling pengertian dan mencegah prasangka.

Perayaan hari besar keagamaan pun kerap dihadiri oleh warga lintas iman sebagai wujud solidaritas sosial, bukan sekadar toleransi pasif.

Bagi Ararat, pengalaman hidup di Indonesia menunjukkan bahwa moderasi beragama bukan hanya konsep normatif atau kebijakan negara, melainkan praktik kultural yang hidup dalam keseharian masyarakat.

Inilah pelajaran penting yang dapat ditawarkan Indonesia kepada dunia, bahwa agama, jika dikelola secara bijak dan inklusif, justru dapat menjadi fondasi kuat bagi kehidupan bersama yang damai dan berkeadaban.

Gereja Kampung Sawah

Dalam studinya, Ararat kemudian membandingkan kehidupan minoritas Kristen yang hidup di tengah mayoritas Muslim di dua konteks sosial yang sangat berbeda, Indonesia dan Suriah.

Di Indonesia, ia memilih Kampung Sawah di Bekasi sebagai lokasi penelitian; sementara di Suriah, ia mengambil wilayah timur laut Aleppo sebagai pembanding.

Dua ruang sosial ini, meski sama-sama pernah mempraktikkan kehidupan majemuk, menunjukkan arah sejarah yang kontras.

Kampung Sawah menjadi contoh konkret kerukunan beragama di Indonesia.

Baca juga:  BRI Bekasi Siliwangi Ramaikan CFD Bareng BRImo

Di kawasan ini, gereja Kristen, gereja Katolik, dan masjid berdiri berdampingan tanpa sekat sosial yang mencolok.

Kehidupan keagamaan tidak berjalan dalam ruang terpisah, melainkan menyatu dengan budaya lokal Betawi.

Orang Kristen dan Katolik mengenakan sarung dan peci saat beribadah ke gereja, sebagaimana umat Islam ketika ke masjid.

Tradisi sosial seperti Ngariung, Sedekah Bumi, dan arisan keluarga besar menjadi ruang perjumpaan lintas iman yang alami, tanpa harus dibingkai sebagai agenda toleransi formal.

Kerukunan di Kampung Sawah tumbuh dari ikatan kekerabatan, budaya, dan keseharian yang saling bersinggungan.

Sebaliknya, Aleppo menghadirkan kisah yang jauh lebih getir. Kota ini pernah dikenal sebagai simbol pluralisme, tempat Muslim, Kristen, Yahudi, dan berbagai kelompok etnis hidup berdampingan.

Seni, musik, puisi, dan praktik sufisme menjadi bahasa bersama yang menjembatani perbedaan iman.

Namun konflik etno-politik-sektarian telah meruntuhkan tatanan itu.

Aleppo tidak hanya kehilangan bangunan dan infrastruktur, tetapi juga memori sosial tentang hidup bersama secara damai.

Melalui perbandingan ini, Ararat berharap disertasinya dapat menjadi jembatan intelektual antara Indonesia dan dunia Arab.

Pengalamannya hidup di Indonesia membuatnya merasakan Pancasila bukan sekadar teks normatif, melainkan praktik hidup yang dijalani sehari-hari.

Indonesia, dengan segala kekurangan dan tantangannya, dapat menjadi laboratorium penting bagi studi moderasi beragama dan peradaban damai.

Pertanyaannya, apakah kita sungguh menyadari betapa rapuhnya harmoni itu dan cukup bijak untuk menjaganya sebelum terlambat?

Berita Terkait

spot_img

Berita Terkini

spot_img