28.9 C
Jakarta

Miris! Anak Kelas 4 SD Akhiri Hidupnya Karena Tidak Mampu Beli Buku dan Pena

Published:

RBN, NTT – Tragis, disaat tidak mampu membeli buku dan pena, seorang anak berusia 10 tahun, berinisial YBS, asal Dusun Sawasina, Desa Naruwolo, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), rela mengakhiri hidupnya.

Bocah itu masih sangat muda sekali, saat ini dia masih duduk di bangku kelas 4 sekolah dasar (siswa SD). Korban nekat mengakhiri hidupnya di pohon cengkeh dekat pondok sederhana di tengah kebun yang ia tinggali bersama neneknya. Korban diketahui, ditemukan tewas gantung diri pada Kamis, 29 Januari 2026, siang.

Yang membuat semakin tragis, sebelum bunuh diri, bocah malang itu meninggalkan sepucuk surat untuk ibundanya yang berinisial MGT (47). Sepucuk surat itu ditemukan polisi saat olah TKP di sekitar lokasi.

Dalam tulisan tangan sang bocah, tertulis dengan bahasa Bajawa (lokal Ngada) dan ditutup dengan emoji menangis:

“Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti)

Mama Galo Zee (Mama saya pergi dulu)

Mama molo Ja’o (Mama relakan saya pergi)

Galo mata Mae Rita ee Mama (Jangan menangis ya Mama)

Mama jao Galo Mata Mae woe Rita ne’e gae ngao ee (Tidak perlu Mama menangis dan mencari, atau mencari saya)

(Molo Mama) Selamat tinggal Mama”

Korban diketahui tinggal bersama neneknya, karena ibunya merupakan orang tua tunggal, yang bekerja sebagai petani serabutan. Ibu korban mengurusi lima orang anak, termasuk korban. Sementara ayah korban telah meninggal dunia sejak korban masih dalam kandungan.

Malam sebelumnya, Rabu, 28 Januari 2026, korban sempat menginap di rumah ibunya (MGT) di desa tetangga. Korban meminta uang untuk membeli buku dan pena seharga Rp 10.000.

Namun, sang ibu kala itu menjawab sedang tidak mempunyai uang. MGT menyampaikan bahwa kondisi ekonomi keluarga terbatas dan serba kekurangan, sehingga belum bisa membelikan buku dan pena untuk korban.

Keesokan harinya, korban pulang ke gubuk neneknya, dan siang harinya terjadi peristiwa tersebut. Korban ditemukan warga dusun setempat berinisial KD (59) saat sedang mengikat hewan ternak di sekitar kebun.

Saat menuju pondok untuk memberi tahu nenek korban, ia melihat korban tergantung di dahan pohon cengkeh. Saksi KD kaget dan berlari ke jalan sambil berteriak minta tolong. Warga sekitar segera berdatangan dan melaporkan ke polisi.

Saat itu, korban sudah tewas dengan kondisi leher terikat tali. Warga mengamankan lokasi sembari menunggu kedatangan polisi untuk dilakukan proses evakuasi dan olah TKP. Korban selanjutnya dibawa ke Puskesmas Dona Jerebuu untuk visum et repertum (autopsi). Korban telah dimakamkan pada 30 Januari 2026.

Berita Terkait

spot_img

Berita Terkini

spot_img