Ritual Budaya Malam 1 Suro Bersama Direktorat Kebudayaan UI, Komoenitas Makara, Urban Spiritual Indonesia, dan Prodi Sastra Jawa FIB UI

Published:

DEPOK – Direktorat Kebudayaan UI bersama Urban Spiritual Indonesia, Komoenitas Makara, dan Program Studi Sastra Jawa FIB UI menyelenggarakan acara Malam 1 Suro atau 1 Muharam 1448 Hijiriah dengan tema “Malam Tirakat, Hening, dan Menyelaraskan Diri”.

Acara yang dihadiri para pegiat budaya ini berlangsung di selasar Makara Art Center Universitas Indonesia, pada Senin malam 15 Juni 2026 ini diselenggarakan untuk menyambut Tahun Baru Jawa dan Tahun Baru Islam dalam ruang kebersamaan, refleksi, serta doa lintas rasa.

Acara ini menghadirkan sejumlah pamomong kebudayaan seperti Direktur Kebudayaan UI Dr. Ngatawi Al Zastrouw, Pendiri Urban Spiritual Indonesia Dr. Turita Indah Setyani, Guru Besar Sastra Jawa FIB UI Prof. Dr. Darmoko, Pakar Kebudayaan Jawa FIB UI Dr. Ari Prasetiyo, Praktisi Budaya Jawa Ki Yusuf Raharjo, dan Ketua Komoenitas Makara Fitra Manan.

Adapun acara ini diisi oleh sejumlah rangkaian ritual seperti Senandung Kidung, Jamasan Pusaka, Doa dan Refleksi Awal Tahun, Meditasi, Tapa Bisu Tepi Danau, dan Bersama Menikmati Hidangan Bubur Suro.

“Perayaan tahun baru Jawa yang bersamaan dengan Hijriyah tidak saja mencerminkan pergantian waktu, tapi memiliki makna kultural dan spiritual. Secara kultural perayaan ini mencerminkan sikap moderat (tawasuth) dan toleran (tasamuh) yang menjadi karakter dari budaya Nusantara. Penyatuan kalender Jawa dan Hijriyah ini merupakan bentuk ijtihad kebudayaan yang genius, kreatif dan inovatif dari Sultan Agung dalam mentautkan agama dan tradisi tanpa meleburkan keduanya. Sehingga bentuk dan jejak masing-masing masih jelas terlihat (ciltural affinity). Sedangkan makna spiritual perayaan 1 Suro merupakan momentum menggali dan menghidupkan spirit religiusitas melalui berbagai laku spiritual.yang reflektif seperti muhasabah (refleksi diri), meditasi dan sejenisnya.”, ujar Direktur Kebudayaan Universitas Indonesia Dr. Ngatawi Al Zastrouw.

“Dalam rangka menyambut Tahun Baru Jawa dan atau Tahun Baru Islam, di ambang pergantian waktu, memasuki malam 1 Suro/1 Muharam, saat yang oleh para leluhur dipandang sebagai waktu untuk manekung atau ber-tafakur dan ber-taqarrub, kegiatan meditasi dihadirkan sebagai ruang hening untuk sejenak diam, mendengar suara hati yang selama ini tertutup oleh hiruk-pikuk kehidupan, dan kembali pulang pada kesadaran diri yang begitu dekat dengan Yang Maha Kuasa. Melalui laku tafakur dan taqarrub, peserta diajak merefleksikan perjalanan hidup yang sudah dilalui, menyucikan niat ke depan, serta menumbuhkan kesadaran akan hubungan dengan Sang Pencipta, sesama, dan alam semesta sebagai implementasi kesadaran diri dekat dengan Sang Sumber Kehidupan. Tumbuhnya kesadaran tersebut dapat melepaskan kegaduhan batin, merawat kebeningan hati, serta membuka lembaran baru kehidupan di tahun baru. Tindakan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari dapat terwujud dengan penuh amanah, arif, dan bijak. Sebab dalam setiap tindakan disadari dalam rangka melaksanakan dharma sesuai kehendakNya (berasal dari Sang Sumber Kehidupan).”, tutur Pendiri Urban Spiritual Indonesia Dr. Turita Indah Setyani, saat memimpin meditasi.

“Malam 1 Suro bukan sekadar pergantian angka pada kalender Jawa maupun Hijriah. Bagi kita semua, malam ini adalah sebuah gerbang waktu yang sakral untuk sejenak berhenti dari hiruk-pikuk duniawi, lalu menengok ke dalam diri kita masing-masing. Dalam falsafah budaya Jawa yang luhur, malam ini adalah momentum terbaik untuk melaksanakan prinsip “Eling lan Waspada”. Eling artinya kita senantiasa ingat kepada Sang Pencipta, ingat dari mana kita berasal, dan ke mana kita akan kembali seperti yang dirangkum dalam falsafah hidup “Sangkan Paraning Dumadi”, tambah Wakil Ketua Komoenitas Makara Gunawan Wicaksono dalam pidato pembuka acara.

“1 Suro (Tahun Baru kalender Jawa) bersamaan dengan 1 Muharram (Tahun Baru Islam kalender Hijriah). Saya melihat bahwa telah terjadi pergeseran dan perubahan makna amelioratif menjadi peyoratif dalam memaknai peringatan 1 Suro. Sebelumnya, 1 Suro merupakan hari yang baik, karena di saat itulah masyarakat Jawa melakukan penyucian diri, interospeksi serta evaluasi diri setelah menjalani kehidupan selama setahun. Seiring perjalanan waktu 1 Suro bergeser dan berubah menjadi bermakna tidak baik. 1 Suro mendapat konotasi negatif sebagai waktu yang menakutkan, hantu bergentayangan, angker, dan mengundang sial. Film-film horor secara latah ikut meracuni dan memvalidasi pemahaman negatif ini. Marilah di malam 1 Suro ini kita bersama-sama melakukan evaluasi dan perbaikan diri: Jadi dosen, jadilah dosen yang baik. Jadi mahasiswa, jadilah mahasiswa yang baik. Jadi pejabat, jadilah pejabat yang baik. Jadi pemimpin, jadilah pemimpin yang baik.”, tambah Pakar Kebudayaan Jawa FIB UI Dr. Ari Prasetiyo.

“Niat ingsun jamas pusaka punika, kinarya sarana nguri-uri budaya leluhur, nyuwun berkahing Gusti Allah, mugi pusaka menika pinaringan wilujeng, tebih saking sangkala, lan migunani.” (Terjemahan: “Niat saya adalah untuk melestarikan warisan , untuk bekerja sebagai sarana menghidupkan kembali budaya leluhur kita, memohon berkah Tuhan, semoga warisan ini diberkati dengan kebahagiaan, jauh dari bahaya, dan bermanfaat”) , ujar Ki Yusuf Raharjo yang bertindak sebagai penjamas pusaka.

Adapun Guru Besar Sastra Jawa FIB UI Prof. Dr. Darmoko menyampaikan pesan luhur 1 Suro melalui tembang Jawa: “Amurwani sekarnya amanis,Manembrama kang gya winursita,Wulan suci katelahe,Slasa Wage linuhung,Siji Sura sasangka yekti,Sangalas swidak ika,Taun Jawi luhung,Limalas Juni kang surya,Rongewu nemlikur yata ingkang warsi,Masehi kang ingetang.Direktorat Kabudayan UI,Ngrumat ngreksa budayaning bangsa,Ywa sinirik brayan kabeh,Pinangkane ambangun,Jatidiri miwah pondasi,Kotamaning kawula,Samya guyub rukun,Mujudken gebengan nyata,Adil makmur mirah sandhang pangan yekti,Weh moncering negara.

Para dwija mahasiswa sami,Samya munjuk Gusti Maha Kwasa,Muja-muji ndedongane,Tata tentrem rahayu,Gemah ripah myang loh jinawi,Sarta karta raharja,Wulan Sura punjul,Lelandhesan lega lila,Mugi-mugi Gusti tansah ngijabahi, Nirbaya nir sangsaya.

(Terjemahan: )Mengawalinya dengan tembang Dhandhanggula,Tuk menyambut fokus cerita,Termasyur sebagai bulan suci,Selasa Wage nan luhur,Tanggal satu bulan Sura yang istimewa,Seribu sembilan ratus enampuluh itu,Taun Jawa nan agung,Hari ke-15 bulan Juni Duaribu duapuluh enam tahunnya ,Terhitung pada kalender Masehi.

Direktorat Kebudayaan Universitas Indonesia,Merawat dan menjaga budaya bangsa,Janganlah sampai khalayak menjauhi & menolaknya,(Budaya) sebagai sarana pembangun, Jatidiri dan fondasi,Keutamaan-keutamaan bagi rakyat,Semua rukun dan kompak,Menggapai tujuan bersama yang nyata, Masyarakat adil makmur murah sandang pangan yang sesungguhnya,Termasyurlah negara ini,Para dosen dan mahasiswa, Menghadap ke haribaan Tuhan Yang Maha Kuasa, Memuja memuji dan berdoa, Agar suasana tetap aman tentram dan damai,Rakyat sejahtera bumi nan subur bahagia,Serta hormat menghormnati tanpa resistensi, Di bulan Sura nan agung, Berlandaskan hati tulus dan ikhlas, Smoga Tuhan senantiasa mengijabah, Terhindar dari rintangan, hambatan, dan gangguan yang kan menimpa diri. Sejumlah tokoh hadir pula dalam malam yang penuh makna ini, di antaranya: Pegiat Budaya Eko Wiwid Arengga dan Pendiri Borobudur Writers and Cultural Festival Seno Joko Suyono.

(Pusinfo Direktorat Kebudayaan UI dan Humas Komoenitas Makara)

Berita Terkait

spot_img

Berita Terkini

spot_img